Doa Ketika Gelisah Melanda

Satu Doa Ketika Gelisah Meruyak

“Hasbunallah wani’mal Wakil”
(Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung)
(QS. Ali Imron 3:173)

Terkadang kita merasa hidup ini sudah tidak ada harapan karena segala masalah dan beban hidup kita, namun sebagai orang beriman ingatlah doa di atas, hal ini pernah terjadi dalam sebuah kisah.

Di negeri Babilonia hidup seorang raja yang sangat zalim. Namrud bin Kan’an bin Kusy, namanya. Seturut catatan sejarah, Namrud dan segenap rakyatnya adalah para penyembah patung. Konon, dalam lingkungan sosial seperti inilah Nabi Ibrahim as lahir dan tumbuh dewasa.

Tak aneh bila ayahanda Ibrahim sendiri pun seorang penyembah berhala sejati. Kendati demikian, Ibrahim sendiri bukanlah sosok yang mudah manut dengan keadaan yang menyesatkan.
Ia bukanlah tipikal anak yang takluk pada kehendak semena-mena orang tua. Di matanya, kebiasaan ayah dan rakyat Babilonia menjadikan benda mati sebagai Tuhan itu jelas-jelas sebuah kedunguan. Sesuatu yang tidak logis. Irasional, tak masuk akal. Maka ia pun berontak.

Kisah Lainnya: Enam Pertanyaan Imam Ghozali


Ia bertekad menghancurkan patung-patung sesembahan rakyat Babilonia tersebut. Dengan sebilah kapak tajam yang terhunus di tangannya, ia merangsek masuk ke tempat dimana berhala-berhala itu di pancangkan. Sejurus kemudian kapak Ibrahim telah berayun-ayun, melesat-lesat, menghantam patung-patung itu.
Semua roboh, hancur berkeping-keping, kecuali satu patung yang paling besar. Di patung besar itulah, Ibrahim mengalungkan kapak sebagai sebuah taktik jitu menguji keyakinan rakyat Babilonia.

Keesokan harinya ketika rakyat Babilonia hendak beribadah, semua tiba-tiba histeris dan terperanjat bukan kepalang melihat tuhan-tuhan mereka telah roboh dan hancur.
Mereka kalap, marah dan langsung menyelidiki siapa gerangan pelakunya. Setelah mengorek informasi ke sana sini, sosok Ibrahim pun terkuak sebagai tersangka.

Ia pun disidang di pengadilan babilonia. Kepada para hakim Ibrahim berkilah. Ia tidak mengakui bahwa tindakan anarki itu perbuatannya. Ia berdalih bahwa patung yang paling besar itulah yang berbuat: “Bukankah kapak itu tergantung di lehernya? Tanyalah padanya!” mereka tercengang dan meradang atas jawaban Ibrahim. “Mana bisa patung itu bicara?” jawab mereka kesal.

Akhirnya Ibrahim berkata kembali: “Tidak bisa? Lalu kenapa kalian menyembahnya? Setan telah memperdaya kalian. Kembalilah kepada Allah! Dialah Tuhan Yang Maha Esa.” Namun orang-orang yang sesat memang tidak mau mengakui kekalahannya. Akhirnya, para hakim tetap memutuskan vonis mati Ibrahim dengan cara membakarnya hidup-hidup.

Kisah Lainnya: Kalimat Pembangkit Semangat


Kita tahu, akhirnya, Ibrahim pun tak bisa melawan. Ia rela raganya dijilati api, tapi ia tidak ridho jiwanya terlalap si jago merah. Maka Ibrahim pun berpasrah diri. Pada detik-detik genting inilah, mulutnya dan hatinya basah oleh lafal ‘hasbunallah wa ni’mal wakil’ (cukup Allah sebagai penolongku, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung).

Dan Allah mendengar doa lirih Ibrahim, hingga satu firman pun turun: “Hai api, jadilah dingin! Jadilah keselamatan bagi Ibrahim!” dan api itu akhirnya tak mampu melahap tubuh Ibrahim. Ia selamat. Ia menumpas segala kegundahannya bersama kekuatan Illahi yang bersemayam di qolbunya.

Ibrahim tak sendiri. Junjungan kita, Rasulullah saw, pun mendedahkan doa senada tatkala sebagian tentaranya bersikap setengah hati menghadapi pasukan musyrik yang senjata dan bekal perangnya lebih bayak. Ternyata kata hasbunallah wa ni’mal wakil yang ditutur Rasul Muhammad saw itu langsung menepis rasa takut pasukannya sehingga mereka mengucap hal yang serupa dan iman mereka pun kian berkembang.

Begitulah, Ibrahim dan Muhammad akhirnya mampu menggerus kecemasan jiwanya bersama energi Ilahi hasbunallah wa ni’mal wakil. Wajar bila keajaiban sukses pun berpihak di sisi mereka. Padahal kita tahu, rasa gelisah mereka adalah bahaya maha dahsyat bernama maut.

Kisah Lainnya: Cerita Seekor Katak Pemenang


Dan kita, umatnya, kadangkala menggelepar sekarat bila sejumlah harapan duniawi kita punah sebelum waktunya. Kita tiba-tiba menjadi manusia yang paling malang. Sepi, sendiri dan hidup dalam jeri. Tidak hanya itu, kita -acapkali- menggugat Sang Kholiq: ‘Ya Allah, kenapa hal ini terjadi dalam hidupku?’ Pada titik inilah, saya pikir, lirik Opick di atas terasa menggedor-gedor nurani: Bila hati mulai goyah/ terluka, merana/ Jauhkah hati ni dari Tuhan, dari Allah?

Kegelisahan Negatif atau Kegelisahan Positif


Heidegger, seorang filsuf Jerman abad 20, suatu kali pernah menta’rifkan kegelisahan atau kecemasan (angst) sebagai berikut: suasana hati dasariah yang menyingkap ketakberumahan dan ketakberkampunghala man manusia. Bila kondisi ini bermukim di dalam hati kita, maka itu sebuah proses tersingkapnya kesadaran diri kita dari ketakberumahannya kita di dunia ini.

Oleh karena itu, rasa ini sejatinya semakin meneguhkan ihwal kefanaan manusia, ketidakkekalan dirinya di jagad dunia ini. Tak aneh, bila Allah mencap ciptaan-Nya ini sebagai makhluk yang berselimut keluh kesah dan gelisah.
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah…” (QS. Al-Ma’aarij: 19)

Sayangnya, suasana gelisah ini seringkali menggiring manusia pada keyakinan bahwa rumah dan kampung halaman yang hakiki itu berada di dunia. Hal ini, bisa dilihat dari kenestapaan yang umumnya membuat kita larut dalam kecemasan dan kegelisahan yang parah.

Saya menyebut kondisi ini dengan kegelisahan negatif, sejenis kegelisahan yang meringkus harapan dan semangat hidup seseorang untuk berani melangkah lagi. Pada titik ini, lazimnya orang akan cenderung tidak kreatif, mengeluh, marah-marah, dan bertindak impulsif. Jiwanya tidak tenang, dan hatinya rusuh oleh segenap peristiwa pahit yang menimpanya.

Kisah Lainnya: Kisah Burung Elang Yang Belajar Terbang


Ia lupa bahwa kemalangan, kekecewaan dan kegelisahan ini adalah kesementaraan. Karena itulah, saya sepakat ketika filsuf Epictetus mengatakan bahwa manusia tidak diganggu oleh peristiwa-peristiwa , melainkan oleh pandangannya sendiri tentang peristiwa-peristiwa itu. Begitu pula dengan manusia yang mengelola kegelisahannya secara negatif. Ia melihat peristiwa yang tengah
menyusahkannya itu semisal kutukan, selayak kelam yang berjelaga.

Sebaliknya, bila seseorang melihat kejadihan pahit yang melandanya itu sebagai sebuah berkah, seumpama anugerah tersembunyi yang suatu saat akan menyembul tiba-tiba, maka ialah sosok yang saya sebut sebagai manusia yang memiliki kegelisahan positif.
Pada titik ini, seseorang berusaha mengoptimalkan energi kreatifnya semaksimal mungkin. Ia berpikir positif, tidak mengeluh, dan tidak larut dalam kecemasan, dalam keterpurukan. Ia, menurut sufi Hazrat Salahedin Ali Nader Angha, adalah karakter yang senantiasa menganggap peristiwa-peristiwa pahit sebagai sesuatu yang tidak “buruk”, melainkan lebih merupakan pengalaman-pengalam an yang darinya kita bisa belajar untuk lebih dewasa.

Ia percaya bahwa Sang Pemilik Maha, Allah azza wajalla, tengah menyingkap tabir mukjizat-Nya, ia yakin bahwa Allah sedang menyibak sendi-sendi rahasia-Nya hingga ia menemukan sebuah pintu keberkahan yang tidak disangka-sangkanya. Pada momen seperti inilah ia berusaha menjadi manusia yang mengaktualisasikan dirinya sebesar mungkin. Ia menggali potensi, bakat, dan kapasitas kemampuan yang selama ini dimilikinya. Bahkan seorang psikolog bernama Abraham Maslow dalam buku Motivation and Personality- nya menganggap orang-orang seperti inilah yang layak disebut orang-orang sukses.

Kisah Lainnya: Belajar Dari Bibit Kurma


Dan saya yakin, kegelisahan positif ini tidak tumbuh menyelubungi jiwa seseorang begitu saja. Ia bukan sesuatu yang taken for granted. Ia hadir ketika keyakinan hati seorang hamba menerbitkan Allah di sisinya. Ia tempatkan sang Rahman sebagai Sahabat dan Penolong sejatinya seraya terus melafal-lafal hasbunallah wa ni’mal wakil di hatinya.

Barangkali, tak aneh bila Simone Weil, intelektual kiri yang berubah menjadi seorang mistikus abad 20, berkata begini, “Bagi manusia spiritual (beriman), kemalangan menimbulkan perasaan bahwa Tuhan telah meninggalkan anda. Tetapi, jika Anda bisa bangkit dari kegelapan, iman Anda akan jadi lebih dalam dan Anda akan merasakan salah satu misteri besar kehidupan.”

Semoga saja anda dan siapapun yang tengah dilanda gelisah tengah bersiap menyongsong dari misteri besar itu. Amin.

0 Response to "Doa Ketika Gelisah Melanda"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel